Penyebab dan Pencegahan Terhadap Hipertensi
Penyebab dan Pencegahan Terhadap Hipertensi
Novi Intan Dwirizky
STr. Keperawatan Lawang
noviintandwirizky@gmail.com
Abstraksi
Hipertensi
merupakan kondisi dimana tekanan darah seseorang yang melebihi batas normal
yaiu diatas 120/80 mmHg. Hipertensi kebanyakan dikarenakan oleh faktor
keturunan dan pola hidup yang tidak sehat. Seseorang yang memiliki riwayat
darah tinggi kemungkinan dirinya dan keturunannya kelak juga akan mengalami
hipertensi. Kebanyakan masyarakat yang mengkonsumsi makanan siap saji dan
kurangnya aktifitas fisik adalah salah satu faktor pemicu darah tinggi. Tak
hanya itu faktor lain yang bisa menjadi penyebab dari tekanan darah tinggi
adalah usia, jenis kelamin, obesitas, dan lainnya. Kebiasaan buruk ini dapat
diminimalisir dengan pola hidup yang sehat seperti mengurangi konsumsi garam,
minum jus buah atau sayuran serta olahraga yang cukup. Selain itu melakukan
diit dan juga melakukan terapi dapat mencegah dan mengatasi hipertensi. Hipertensi
tidak bisa dianggap remeh, jika mengabaikannya maka akan mengakibatkan
komplikasi berbagai penyakit yang berbahaya.
Kata
kunci : Hipertensi,
faktor hipertensi, pengobatan
Pendahuluan
Mengukur tekanan darah
seseorang dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan alat yaitu tensimeter atau
sfigmomanometer air raksa. Tekanan darah seseorang digolongkan menjadi tiga,
yaitu tekanan darah rendah(hipotensi), tekanan darah normal(normotensi) dan
tekanan darah tinggi(hipertensi). Menurut batasan yang dikeluarkan oleh WHO(World Health Organization, 1992) batas
tekanan darah tinggi adalah >160 mmHg untuk tekanan sistolik dan >95
untuk tekanan diastolik. Akibat hipertensi dapat berakibat fatal sehingga dapat
menyebabkan komplikasi seperti stroke, jantung koroner dan gagal ginjal,
apabila terus berkembang dan tidak terkendali (dr. L Gunawan 2007:5). Hipertensi
sangat bervariasi tergantung bagaimana seseorang memandangnya. Secara umum
hipertensi adalah kondisi tekanan darah seseorang yang berada diatas batas tekanan
darah normal. Hipertensi disebut juga pembunuh gelap(sillen killer). Hipertensi
dengan cara tiba-tiba dapat mematikan seseorang tanpa diketahui gejala terlebih
dahulu (Eva P. dan Yasir H. 2014).
1.
Jenis
Hipertensi
Ditinjau dari unsur penyebabnya,
hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi
sekunder merupakan penyakit ikutan dari penyakit yang sebelumnya diderita.
Sedangkan hipertensi primer(esensial) ini masih belum jelas disebabkan oleh
apa. Namun 90% dari penderita menderita hipertensi esensial, sedangkan sisanya
mengalami hipertensi sekunder.
Menurut Chinese Medicine hipertensi ada dua macam yaitu :
- Akibat api
hati berlebihan, yaitu organ hatinya panas
2. Akibat
kekurangan air ginjal, atau ginjal sedang dalam keadaan kering (Setiawan, dkk.
2008). Akibat yang ditimbulkan dari penyakit hipertensi antara lain penyempitan
arteri yang membawa darah dan oksigen ke otak, hal ini disebabkan karena
jaringan otak kekurangan oksigen akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh
darah otak dan akan mengakibatkan kematian pada bagian otak yang kemudian dapat
menimbulkan stroke. Komplikasi lain yaitu rasa sakit ketika berjalan kerusakan
pada ginjal dan kerusakan pada organ matayang dapat mengakibatkan kebutaan
(Beevers, 2001). Gejala-gejala hipertensi antara lain sakit kepala, jantung
berdebar-debar, sulit bernafas setelah bekerja keras atau mengangkat beban
kerja, mudah lelah, penglihatan kabur, wajah memerah, hidung berdarah, sering
buang air kecil terutama di malam hari telinga bordering (tinnitus) dan dunia
terasa berputar (Sustrani, 2004).
2.
Faktor
Hipertensi
Terdapat banyak faktor yang dapat
menyebabkan hipertensi, diantaranya adalah:
a.
Obesitas
Seseorang yang
mengalami obesitas(kegemukan) memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami
hipertensi. Indikator yang digunakan adalah melalui pengukuran IMT atau lingkar
perut. Obesitas salah satu faktor risiko yang dapat mempercepat kejadian
hipertensi (Yunita P. 2014:13). Para petugas kesehatan hendaknya memberikan
penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit hipertensi secara rutin dan
terjadwal. Seseorang yang mengalamai obesitas hendaknya melakukan perubahan
gaya hidup yaitu melakukan olahraga secara rutin dan mengkonsumsi makanan yang
sehat sehingga dapat mencegah obesitas, kemudian bagi yang sudah obesitas
dianjurkan mengurangi berat badan sehingga berat badan bisa kembali normal
(Kiki dan Dida. 2012).
b.
Usia dan Jenis Kelamin
Pada usia remaja(13-18 tahun), sering
terjadi kenaikan darah ringan.
Hipertensi ringan yang sering terjadi adalah hipertensi esensial yang merupakan lanjutan dari masa kanak-kanak
dan berlanjut ke dewasa, hipertensi pada usia remaja biasanya diikuti juga
dengan penyakit ginjal(Johannes, 2016). Semakin bertambahnya usia maka risiko
terkena hipertensi juga akan semakin tinggi, hal ini dikarenakan tekanan
sistolik seseorang akan terus bertambah sampai usia 80 tahun, tekanan diastolik
juga akan terus bertambah sampai usia 55-60 tahun dan tekanan ini akan menurun
dengan sendirinya. Tak hanya usia, jenis kelamin juga sangat berpengaruh, laki
– laki yang mengalami hipertensi lebih sering ditemukan pada masa muda
sedangkan perempuan yang mengalami tekanan darah tinggi sering ditemukan ketika
akan mengalami masa menopause (Kiki, 2013)
c.
Keturunan
Apabila dalam sebuah
keluarga terdapat riwayat hipertensi, maka risiko untuk terkena tekanan darah
tinggi akan lebih besar yaitu meningkat 4 sampai 15 kali dibandingkan dengan
keluarga yang tidak memiliki riwayat hipertensi(normotensi). Bila kedua
orangtua menderita hipertensi esensial, maka 44,8% anaknya akan menderita
hipertensi. Jika hanya salah satu orangtua hipertensi maka 12,8% keturunannya
akan mengalami hipertensi (Johannes H. Saing 2016:160).
d.
Konsumsi garam
Kejadian hipertensi
sering dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat yang gemar mengkonsumsi makanan
asin. Tubuh manusia membutuhkan kurang dari 7 gram garam dapur sehari atau
setara dengan 3000 mg sodium. Jenis makanan yang mengandung sodium, makanan
yang dipanggang, keju, makanan kaleng dan laut (seafood), serta padi-padian
(cereals). Ternyata terdapat hubungan yang signifikan saat mengkonsumsi makanan
asin dapat mengakibatkan adanya tekanan darah tinggi (Lely, Asri, Antonius,
2009)
Faktor risiko tekanan
darah dapat meningkat didukung oleh gaya hidup seseorang itu sendiri, terutama
masyarakat perkotaan yang memiliki pola hidup santai karena pengaruh
globalisasi seperti makanan siap saji sehingga kekurangan akan kebutuhan serat,
vitamin dari buah dan sayur, kurangnya aktifitas fisik karena kemudahan dalam
mengakses apapun, serta gaya kehidupan malam yaitu minum minuman beralkohol dan
merokok. Faktor sosial juga ikut berpengaruh, tingginya tingkat kemiskinan dan
pengangguran, padatnya penduduk mengakibatkan tingkat persaingan tinggi
sehingga terjadi kesenjangan disabilitas yang dapat mempengaruhi kondisi mental
seseorang (Julianty, 2010).
3.
Cara
Mengobati
Relaksasi adalah suatu
prosedur dan teknik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan,
dengan cara melatih pasien agar mampu dengan sengaja untuk membuat relaksasi
otot-otot tubuh setiap saat, sesuai dengan keinginan. Relaksasi terbagi menjadi
dua kelompok, yaitu relakasi yang menekankan pada fisik, seperti yoga,
relaksasi otot progresif, latihan pernafasan. Sementara jenis relaksasi yang
menekankan pada mental/psikis adalah autogenic suggestion, imagery, relaxating
self talk dan meditasi. Relaksasi dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk
mengontrol perasaanya serta kemampuan untuk beraktivitas dan berinteraksi
dengan lingkungan sekitarnya. Karena relaksasi dapat menurunkan tekanan darah
sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi (Indahria, 2013).
Hipertensi dapat
dicegah dengan melakukan dua pendekatan yaitu : 1) melakukan penanganan secara
langsung untuk membantu menurunkan tekanan darah supaya dapat menggeser
distribusi ke arahtekanan yang lebih rendah. 2) strategi penurunan tekanan
darah ditujukan pada klien yang mempunyai, tekanan darah normal dalam kisaran
yang tinggi, riwayat keluarga ada yang menderita hipertensi, obesitas, tidak
aktif secara fisik, atau banyak minum alkohol dan garam (Muljadi, 2001:104).
Belimbing sudah sejak dulu digunakan sebagai obat tradisional yang bermanfaat
untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Buah ini mengandung kadar kalium tinggi
dan natrium rendah, sehingga sesuai dikonsumsi oleh penderita hipertensi (Wirakusumah,
2004).
Penderita hipertensi
dapat menurunkan tekanan darahnya dengan melakukan diet hipertensi salah satu
caranya adalah megonsumsi jus mentimun dan menghindari konsumsi garam dalam
kesehariannya. Namun dalam pelaksanaanya penderita harus bertindak dan
berperilaku patuh terhadap diet yang dilakukan. Peran keluarga juga dibutuhkan
untuk memberi semangat, bantuan dan pertolongan dan perhatian penuh kepada
penderita. Tak hanya keluarga, peran petugas kesehatan juga sangat diperlukan
sebab petugas sering berkomunikasi secara langsung dan juga mengerti kondisi
pasien sehingga dapat membangun rasa percaya diri yang tinggi untuk sembuh
(Arista, 2013:104). Suatu perilaku juga dipengaruhi oleh keyakinan bahwa,
perilaku tersebut akan membawa hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan yang
bersifat normatif dan memotivasi untuk bertindak sesuai dengan harapan (Agrina,
Sunarti, Riyan, 2011:51). Sehingga dapat disimpulkan bahwa penderita dapat
sembuh dengan cara mengonsumsi jus mentimun dan juga melakukan diet garam, dan
yang terpenting adalah keyakinan pada diri sendiri bahwa bisa kembali normal
dengan didukung oleh keluarga serta petugas kesehatan.
Daftar Rujukan
Agrina, A., Rini, S. S., & Hairitama, R. (2011).
Kepatuhan lansia penderita hipertensi dalam pemenuhan diet hipertensi. Sorot, 6(1),
46-53
Andria, K. M. (2013). Hubungan antara perilaku olahraga,
stress dan pola makan dengan tingkat hipertensi pada lanjut usia di Posyandu
Lansia Kelurahan Gebang Putih Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya. Jurnal
Promkes, 1(2), 111-117.
Beveers
D.G. 2001. ABC of Hypertension. USA: Blackwell Publishing Inc.
Budisetio, M. (2001). Pencegahan dan pengobatan
hipertensi pada penderita usia dewasa. Majalah kedokteran Trisakti, 20(2).
Dalimartha, S., Purnama, B. T., SpGK, M. S., Nora Sutarina,
S., Mahendra, B., Akp, I., & Darmawan, R. (2008). Care your self,
Hipertensi. Penebar PLUS+.
Gunawan, L. (2007). Hipertensi, penyakit tekanan
darah tinggi. Kanisius.
Indrawati, L., & Werdhasari, A. (2009). Hubungan Pola
Kebiasaan Konsumsimakanan Masyarakat Miskin dengan Kejadian Hipertensi di
Indonesia. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 19(4
Des).
Korneliani, K., & Meida, D. (2012). Obesitas dan Stress
dengan Kejadian Hipertensi. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(2),
117-121.
Novian, A. (2013). Kepatuhan Diit Pasien
Hipertensi. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(1), 100-105.
Pradono, J. (2010). Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya
hipertensi di daerah perkotaan (analisis data riskesdas 2007). Gizi
Indonesia, 33(1).
Prasetyaningrum, Y. I., & Gz, S.
(2014). Hipertensi bukan untuk ditakuti. FMedia.
Puspita, E., & Haskas, Y. (2014). Faktor risiko kejadian
hipertensi pada pasien yang berobat di poliklinik rumah sakit umum daerah
labuang baji makassar. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis, 5(1),
58-64.
Saing, J. H. (2016). Hipertensi pada
remaja. Sari Pediatri, 6(4), 159-65.
Sulistyarini, I. (2013). Terapi Relaksasi untuk Menurunkan
Tekanan Darah dan Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Hipertensi. Jurnal Psikologi, 40(1), 28-38.
Sustrani
et al. 2004. Hipertensi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Komentar
Posting Komentar